So Aja

Baca online: cerpen, puisi, naskah drama, surat

0 Komentar 15/06/13 | @ 10.03

Cerita sebelumnya:


Dilema Cinta (7)

Malam ini aku bertunangan dengan Cindy. Kami tampak seperti seorang pangeran dan putri. Aku mengenakan jas hitam dan Cindy terlihat cantik dan anggun mengenakan gaun berwarna putih. Banyak rekan bisnis ayah yang datang ke pesta ini. Cindy juga mengundang banyak temannya, sedangkan aku hanya mengundang teman terdekatku. Sebenarnya aku tidak begitu menikmati pesta ini.

“Hay Ega! bagaimana kabarmu” Aku terkejut dengan sapaan Desta.

Hampir setahun aku tidak bertemu dengannya. Semenjak dia menikah, dia pindah bersama istitrinya ke kota hujan. Mertuanya menghadiahkan sebuah rumah di sana. Sekarang istrinya sedang hamil lima bulan. Kami berdua saling melepas rindu. Desta bercerita tentang kehidupannya sekarang. Dia begitu bahagia dengan keluarga barunya. Aku sempat iri dengan Desta, aku juga ingin bisa menjalanai hari-hariku seperti dia. Tiba-tiba, bruuggh….

Ayah jatuh pingsan. Bunda berteriak memanggil ayah. Semua tamu terkejut, aku pun juga demikian. Sakit jantung ayah kambuh lagi. Tiga tahun yang lalu dokter menyatakan bahwa ayah mempunyai masalah dengan kesehatan jantungnya, dia tak boleh terlalu lelah dan memikirkan masalah yang berat. Acara pertunanganku terpaksa dihentikan. Kami segera membawa ayah ke rumah sakit. Semua orang mencemaskan keadaan ayah. Bunda memutuskan untuk menemani ayah selagi dia dirawat di rumah sakit.

Tiga hari ini kondisi ayah semakin menurun. Bunda semakin khawatir dengan keadaan ayah. Sepulang dari kantor, aku dan Cindy menjenguk ayah di rumah sakit. Kulihat bunda dengan setia berada di samping ayah. Bunda terlihat sangat lelah. Mungkin semalaman bunda tidak tidur. Aku terharu dengan bunda, walaupun bunda sering disakiti ayah, tapi bunda tak pernah dendam. Aku pergi ke kantin untuk membelikan bunda dan cindy minuman.

Aku memesan kopi dan teh hangat. Saat aku berbalik, tiba-tiba seorang dokter muda menabrakku dan menumpahkan kopi dan teh yang aku bawa. Aku ingin memarahinya, tapi saat kutatap wajah dokter itu, rasa amarahku hilang. Aku terpanah melihatnya. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat.

“Amel?” Sapaku.

“Ega? Bagaimana kabarmu?” Amel tersenyum manis padaku. Kulihat dia juga sama terkejutnya seperti aku.

“Kabarku baik Mel, kamu sendiri bagaimana? Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”

“Kabarku juga baik Ga. Aku sekarang bekerja di rumah sakit ini. Kamu sendiri sedang apa di sini?” Tanya Amel dengan heran.

“Ayahku sakit Mel”

“Sakit apa Ga?”

“Dia sakit jantung”

Aku melanjutkan mengobrol dengan Amel. Ternyata sekarang Amel sudah menjadi seorang dokter gigi. Aku terus memperhatikannya. Amel tak begitu banyak berubah, dia masih seperti Amelku yang dulu. Amel yang cantik dan Amel yang selalu ceria. Hanya saja sekarang dia terlihat sedikit dewasa, sifat manja dan kekanak-kanakannya dulu tak kulihat lagi pada diri Amel sekarang. Ingin rasanya aku memeluknya dan membelai rambutnya seperti dulu, tapi aku tak bisa. Aku sudah menyakiti hatinya.

“Ega! Lama banget sih beli minumnya!” Cindy tiba-tiba muncul di depanku.

“Cindy?!” Aku masih terkejut dengan kedatangannya.

“Ini siapa Ga? Teman kamu ya?”

Aku bingung harus menjawab apa pada Cindy,” E….ini Amel Cin, teman lamaku”

“Hai aku Cindy, tunangan Ega” Cindy mengulurkan tangannya.

“Aku Amel, teman lama Ega” Amel menjabat tangannya dengan senyum terpaksa.

“Ga, aku harus kembali kerja. Aku pergi dulu ya. Senang bisa bertemu denganmu.”

Amel melangkah pergi meninggalkanku. Aku tahu pasti Amel terkejut mendengar pengakuan Cindy. Aku telah membuat dia sakit hati lagi.

Setelah Amel pergi, aku dan Cindy kembali memesan kopi dan teh hangat. Kemudian kami kembali ke kamar. Cindy terus bertanya tentang amel, tapi aku tidak banyak menjawab pertanyaannya. Sepertinya Cindy cemburu dengan Amel. Saat aku membuka pimtu kamar, kulihat suster menutup wajah ayah dengan selimutnya. Bunda yang ada disampingnya menangis tersdu-sedu. Ayahku telah tiada…….

***

Semenjak kepergian ayah, suasana di rumah menjadi sunyi. Aku tak pernah mendengar pertengkaran orang tuaku. Aku juga tidak pernah lagi melihat bunda menangis karena dipukul ayah. Hanya sesekali aku melihat bunda menangis karena merasa kehilangan ayah. Entah kenapa aku terus memikirkan Amel. Aku mencari informasi tentang Amel dan kudengar semanjak aku memutuskannya, Amel tak pernah menjalin hubungan dengan lelaki lain.

Malam ini Cindy dan keluarganya berkunjung ke rumahku untuk membicarakan tentang pernikahan kami. Aku bingung harus berbuat apa. Aku tidak bisa menikah dengan Cindy, karena aku masih sayang pada Amel.

“Maaf Om! Saya tidak bisa menikah dengan Cindy.” Semua orang kaget mendengar kata-kataku.

“Ega, kamu ngomong apa!” Cindy marah padaku.

“Maaf Cin, aku benar-bena tidak bisa menikah denganmu.” Ku pertegas kata-kataku

“Kamu bercanda kan Ga?” Cindy masih tak percaya.

“Aku serius Cin. Aku mencintai orang lain. Maafkan aku.”

“Ega!” Bunda menegurku.

“Iya bunda, Ega masih sayang Amel dan belum bisa melupakannya.”

“Kamu jahat Ga!” Cindy menangis dan memukulku.

“Ini suatu penghinaan bagi keluarga kami.”

Ayah Cindy marah padaku dan mengajak Cindy dan mamanya pergi meninggalkan rumahku. Mungkin mereka tidak akan pernah memaafkanku, tapi inilah resiko yang harus aku terima. Aku hanya ingin menentukan pilihanku sendiri.

“Bunda, maafkan Ega! Ega tidak bisa menikah dengan Cindy.”

“Apa kamu benar-benar sayang dia nak?” Bunda bertanya padaku dengan lembut dan bijaksana.

“Iya bunda! Ega masih sayang Amel. Aku berharap bunda mau merestui hubungan kami.” aku memohon pada bunda.

“Kalau kamu bisa bahagia bersamanya, bunda restui nak.” Bunda tersenyum sambil mengelus rambutku. Aku memeluk bunda dan berterima kasih padanya..

Malam itu juga aku pergi ke rumah Amel. Aku terlalu bahagia karena mendapat restu dari bunda. Setelah sampai di depan rumahnya, aku segera mengetuk pintu rumahnya. Tak lama kemudian Amel membuka pintu. Amel terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba.

“Amel!”

“Ega, kamu ngapain malam-malan ke rumahku?”

“Aku sayang kamu Mel!” kupeluk Amel dan rasanya tak ingin aku melepas pelukan ini.

“Ega!”

“Aku sayang kamu Mel!”

“Aku juga Ga!”

* * * * *
T A M A T

By: Elisa Maharani

Label: ,

0 Komentar | @ 10.00

Cerita sebelumnya:


Dilema Cinta (6)

Pukul 8 pagi aku baru bangun. Hari ini aku ada kuliah jam 10, jadi aku bisa sedikit bersantai. Kulihat 3 pesan di HPku. Pesan itu dari Amel. Rupanya semalam Amel tidak bisa tidur memikirkan masalah ini. Amel khawatir dengan keadaanku. Aku ingin membalas sms-nya, tapi aku merasa bersalah pada Amel. Aku terpaksa berbohong padanya. Kubilang aku baik-baik saja dan orang tuaku tidak memarahiku. Aku tak ingin membuatnya sedih.

Setelah pulang kuliah, aku menemui teman baikku. Aku sudah tidak tahan menyimpan masalahku ini. Kuceritakan semua masalahku pada Desta. Desta ikut sedih mendengar masalahku ini. Dia mencoba untuk menghiburku. Tapi kali ini dia tidak mengajakku ke rumah temannya dulu. Sekarang dia tidak pernah lagi mengkonsumsi barang-barang haram itu. Dia sudah jera, karena tiga bulan yang lalu dia hampir overdosis. Desta hanya berkata agar aku tidak salah pilih.

“Mungkin sebaiknya kali ini kamu menuruti apa kata ayahmu Ga. Apa kamu mau melihat bundamu sedih? Kamu tahu sendirikan bagaimana sikap ayahmu? Kalau kamu memilih Amel, kamu akan diusir dari rumah. Kalau kamu pergi dari rumah, bagaimana dengan hidupmu nanti? Bagaimana caramu untuk menghidupi Amel? Kamu sayang Amel kan? Kamu tidak ingin kan melihat Amel hidup susah bersamamu? Cinta tak harus memiliki Ga. Kalau kalian berjodoh, pasti kalian akan bersatu lagi.”

Itu kata-kata yang di ucapkan Desta padaku. Sekarang dia memang sudah berubah. Dia sudah bisa lebih dewasa. Mungkin benar apa yang dikatakana Desta. Aku harus meninggalkan Amel. Ini pilihan yang terbaik bagi semuanya. Aku harus bisa bersikap tegas. Aku tidak ingin Amel terus berharap padaku.

Akhir pekan ini aku mengajak Amel makan malam. Aku mencoba menguatkan hatiku. Jujur, aku tidak sanggup untuk berpisah dengan Amel. Aku masih sayang dia. Selamanya dia kan selalu ada dihatiku.

Kami berdua pergi ke tempat yang sering kami kunjungi. Tempat ini banyak menyimpan kenangan kami. Setahun yang lalu, aku menaruh seikat mawar merah di meja ini dan kukatakana kalau aku sayang dia. Aku masih ingat saat itu dia sangat malu padaku, wajahnya memerah seperti tomat. Ah…. Itu semua sekarang tinggal menjadi kenangan. Di tempat ini juga, aku ingin berterus terang pada Amel.

“Mel”

“iya Ga! Ada apa?” Amel menghentikan makannya dan menatapku dengan senyum polosnya. Aku menjadi tidak tega untuk mengatakannya.

“Kamu kenapa kok jadi bengong? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?” Amel membangunkan lamunanku.

“Mel, kamu tahukan, kedua orang tuaku tudak begitu senang dengan hubungan kita.”

“Iya Ga, Amel tahu. Amel juga tidak tahu harus bersikap bagaimana agar ayah dan bunda Ega bisa merestui hubungan kita.”

“Mungkin sebaiknya kita berpisah Mel!” Aku tidak berani menatap wajahnya.

“Apa? Ega bercanda kan?” Amel masih tidak percaya dengan apa yang kukatakan.

“Aku tak bercanda Mel. Mungkin sebaiknya kita memang berpisah”

“Tapi dulu Ega pernah berjanji tidak akan meninggalkan Amel. Kenapa Ega tidak menepati janji?” kulihat ada air mata yang menetes dipipimya. Aku semakin tidak tega melihatnya dan aku semakin merasa bersalah.

“Mel, kamu tahu kan bagaimana sifat orang tuaku. Aku tidak ingin membuat bunda sedih. Aku harap kamu mau mengerti Mel.”

Amel hanya mengangguk sambil megusap air matanya. Aku tahu Amel masih sulit menerima kenyataan ini. Aku pun juga masih sulit untuk menerima ini semua. Setelah Amel berhenti menangis, aku mengantarkannya pulang. Setibanya di depan rumahnya, Amel segera turun dari mobilku dan cepat-cepat masuk ke rumahnya tanpa berkata apa-apa.

“Mel!” aku berteriak memanggilnya, aku hanya ingin melihat wajahnya untuk yang terkhir kalinya. Amel menghentikan langkanya dan menoleh padaku.

“AKU SAYANG KAMU AMELIA” ku katakan isi hatiku padanya dengan menahan air mata dan rasa sedih. Amel hanya tersenyum sambil menangis. Dia tak membalas ucapanku. Dia langsung berlari masuk rumahnya.

Aku tahu, saat ini Amel pasti sedih. Saat ini pasti dia sedang menagis di kamarnya sambil memeluk beardy, boneka beruang yang pernah aku hadiahkan disaat dia ulang tahun. Amel, aku masih sayang kamu. Maafkan aku……

* * * * *

Lima tahun ini kulalui hari-hariku tanpa Amel disampingku. Memang berat rasanya, tapi aku harus bisa menjalaninya. Aku juga sudah menjalin hubungan dengan wanita lain. Dia adalah Cindy, teman kuliahku. Ayah Cindy adalah rekan bisnis ayah, karena itu kedua orang tua kami merestui hubunganku.

Cindy memang tak kalah cantik dengan Amel, tubuhnya yang ideal dan kulitnya yang putih bersih membuat dia kelihatan cantik. Setiap minggu dia tidak pernah absen untuk pergi ke salon. Dia memang selalu menjaga penampilannya. Baju yang dia pakai juga tak pernah ketinggalan mode. Cindy memang idaman setiap laki-laki. Tapi entah kenapa dia masih belum bisa menggantikan posisi Amel di hatiku. Aku masih sering membayangkan Amel. Sekarang dia bagaimana ya? Apa dia juga sudah mendapatkan penggantiku?

“Ga, kamu sedang melamun ya? melamun apa sih?” Aku kaget mendengar teguran Cindy. Aku lupa kalau saat ini aku sedang makan siang bersamanya.

“Ah tidak, aku hanya teringat dengan masa laluku”

“Memangnya tentang hal apa, sampai membuatmu tak menghiraukannku?”

“Sudalah, tidak usah dibahas. Waktu makan siang juga sudah lewat, sebaiknya kita cepat-cepat ke kantor.” Candy menganggukan kepalanya dan berdiri menghampiriku sambil menggandeng tanganku.

Kami memang bekerja dalam satu perusahaan. Aku meneruskan bisnis ayahku dan dia mendapat rekomendasi dari ayahnya untuk bekerja di perusahaan kami. Alasan mereka, agar kami bisa sering bersama dan semakin dekat. Cindy memang cantik, tapi dia terlalu manja. Itu yang tidak aku suka dari dia.

Seminggu lagi kami akan bertunangan. Mama Cindy, bunda, dan Cindy sibuk mempersiapkan acara pertunangan kami. Mama Cindy sibuk memilih makanan yang akan disajikan, bunda sibuk memilih dekorasi yang akan dipakai dalam acara nanti, sedangkan Cindy sibuk memilih gaun yang akan dia kenakan. Semuanya serba sibuk.

Aku tak tahu, apa aku harus bahagia atau bersedih? Bayangan Amel masih sering muncul dan entah kenapa akhir-akhir ini aku sering memimpikannya. Aku rindu dengannya. Aku ingin bisa bertemu lagi dengan Amel.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,

0 Komentar | @ 09.58

Cerita sebelumnya:


Dilema Cinta (5)

Tak terasa kami sudah masuk tahun ajaran baru. Amel dan Desta satu universitas. Amel mendapat beasiswa dan mengambil jurusan kedokteran, sedangkan Desta mengambil jurusan teknik mesin. Aku sendiri diterima di universitas swasta terbaik di kotaku. Aku mengambil jurusan ekonomi, karena aku ingin meneruskan bisnis ayahku.

Walau aku dan Amel tidak bisa bersama-sama dan kami di sibukkan oleh jadwal kuliah yang padat. Tapi setiap akhir pekan kami selalu meluangkan waktu bersama. Pergi berdua ke tempat yang romantis. Menghabiskan akhir pekan berdua. Terkadang kami juga pergi jalan-jalan bersama Amanda. Pergi ketempat-tempat wisata. Kami seperti sepasang suami-istri yang sedang mengasuh anaknya. Dalam hati aku tertawa. Aku merasa bahagia dengan semua ini dan aku sangat bersyukur. Semakin hari aku semakin sayang padanya. Aku tak ingin berpisah dengannya. Aku ingin selamanya bisa selalu mendampingi hari-harinya.

Aku ingin memperkenalkan Amelia pada keluargaku. Aku ingin orang tuaku merestui hubungan kami. Suatu malam aku mengajak Amelia berkunjung ke rumahku. Aku memberanikan diri memperkenalkan Amelia kepada orang tuaku. Aku tak tahu tanggapan apa yang akan mereka berikan nanti.

Jam tujuh lewat seperempat aku sampai di depan rumahku. Aku menekan bel rumahku dengan rasa takut. Amel menatapku dengan perasaan cemas. Aku hanya bisa tersenyum padanya untuk meyakinkan dia. Cukup lama aku menunggu di luar pintu bersama Amel, tiga menit kemudian bibi membukakan pintu dan menyuruh kami masuk.

Amel tak berani jauh-jauh dariku, karena dia tahu tentang semua masalah yang ada di rumah ini. Aku melihat rasa takut di wajahnya. Aku ingin meyakinkan dia, tapi mungkin itu sia-sia. Sepertinya orang tuaku tidak begitu senang dengan Amel. Bunda menatap Amel dengan raut wajah yang tak begitu ramah. Bunda tidak banyak bicara, dia lebih banyak diam sambil menatap kami, sedangkan ayah hanya menemui kami sebentar. Setelah mempersilahkan Amel minum, ayah langsung pergi meninggalkan kami.

Hampir satu jam Amel di rumahku. Rupanya dia tak betah ingin cepet-cepet pulang.. Aku merasa bersalah pada Amel, aku tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya Amel memberanikan diri untuk bermapitan pulang. Aku meminta ijin kebunda untuk mengantarkan Amel pulang. Bunda tak memberiku senyum saat aku pergi mengantar Amel pulang.

Di jalan Amel hanya diam. Aku menjadi semakin bersalah padanya. Aku tak tahu harus berbicara apa padanya.

“Ega, sepertinya orang tuamu tidak begitu senang padaku” tiba-tiba Amel berbicara padaku dengan raut wajah sedih. Aku tak tahu harus menjawab apa.

“Ega, kenapa kamu diam?”

“Tidak Mel, mungkin mereka hanya kaget dengan kedatangan kita yang mendadak” aku mencoba untuk menenangkan hatinya.

“Tapi aku merasa sikap orang tuamu tidak begitu ramah padaku”

“Sudahlah Mel, jangan terlalu dipikirkan. Aku akan berusaha untuk membujuk mereka.”

“Tapi aku takut Ga! Seandainya orang tuamu tidak merestui kita, apa kamu akan meninggalkanku? Aku tidak ingin berpisah darimu Ga!.”

“Aku juga tidak ingin berpisah denganmu Mel. Aku sayang kamu” kukecup keningnya dan kubelai rambutnya.

“Sekarang lebih baik kamu masuk ke rumah, setelah ini kamu langsung tidur ya”

Amel hanya menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke rumahnya tanpa menoleh padaku.

Hari ini merupakan hari yang paling melelahkan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi sesampainya aku di rumah. Aku tidak pernah menyangka kalau orang tuaku tidak menyukai hubungan kami, terutama bunda. Selama ini aku selalu menceritakan pada bunda tentang hubunganku dengan Amel dan bunda tak marah padaku. Tapi kenapa tadi sikap bunda berubah? Aku sungguh bingung.

Rupanya ayah dan bunda sudah menungguku. Setiba di rumah, ayah menyuruhku untuk duduk di kursi ruang keluarga. Tempat biasanya kami sekeluarga menonton tv . Aku tak berani menatap wajah mereka, aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Karena aku tahu pasti mereka akan marah padaku.

“Ega, apa kamu serius dengan gadis tadi?” Ayah langsung menanyakan hubunganku dengan raut wajah yang tak begitu senang.

“Iya yah. Ega sangat sayang dia” Kuberanikan diriku untuk menjawab pertanyaan ayah.

“Ayah tak suka kamu berhubungan dengan dia” Ayah berkata dengan tegas.

“Tapi kenapa yah? Kenapa ayah melarang Ega? Apa alasannya yah?”

“Dia tak pantas untuk menjadi anggota keluarga kita. Dia tak sederajad dengan keluarga kita. Kau lihat tadi, pakaian yang dia pakai terlalu sederhana. Ayah tak suka itu”

“Tapi yah, Ega benar-benar sayang dia.”

“Sudah ayah bilang, ayah tidak suka. Jauhi gadis itu! Apa kamu tidak mau mendengarkan kata-kata ayah” Ayah membentakku.

“Kalau kamu tidak mendengarkan kata-kata ayah, kamu boleh pergi meninggalkan rumah ini” Ayah pergi ke kamarnya dan meninggalkanku berdua bersama bunda dengan rasa marah.

“Sudah Ega, jangan membantah kata-kata ayahmu” bunda mulai berbicara padaku.

“Tapi bunda, Ega benar-benar sayang dia” aku merenggek pada bunda, berusaha meluluhkan hatinya.

“Bunda tidak bisa membantumu. Lebih baik kamu mendengar apa kata ayahmu. Masih banyak gadis yang lebih cantik dari dia dan sederajad dengan kita.”

“Bunda……” aku memelas pada bunda.

“Lupakan dia nak. Jangan pernah kamu membantah ayah. Bunda tidak ingin kamu pergi dari rumah ini. Bunda sayang kamu.” Bunda mencoba membujukku.

Setelah itu aku langsung pergi ke kamar. Ku kunci pintu kamarku, karena aku tidak ingin ada seseorang yang masuk kamarku saat ini. Aku ingin sendiri. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sayang Amel, tapi aku juga sayang bunda. Aku tidak ingin membuat bunda sedih. Kalu aku memilih untuk tetap bersama Amel, pasti bunda akan sedih dan ayah akan terus menyalahkan bunda karena pilihanku ini. Tapi aku merasa bahagia bersama Amel. Aku merasa benar-benar punya keluarga. Aku benar-benar bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Aku bingung harus memilih mana. Masalah ini membuat aku benar-benar pusing.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,

0 Komentar | @ 09.56

Cerita sebelumnya:


Dilema Cinta (4)

Setiap hari aku selalu terbayang Amel. Aku semakin bahagia karena tiga hari yang lalu Amel mau menerima cintaku. Ternyata diam-diam sejak SMP Amel juga menaruh hati padaku, tapi dia malu untuk mengungkapkannya. Kehadiran Amel membuat hidupku berubah. Aku menjadi lebih bahagia, walaupun hampir setiap hari aku mendengar pertengkaran orang tuaku. Kecanduanku pada serbuk putih itu juga sudah hilang. Amel telah menyadarkanku.

Hari ini aku berencana untuk pergi ke rumah Amel. Aku harus tampil semenarik mungkin di depan kedua orang tua Amel. Aku ingin bisa mengambil hati kedua orang tuanya. Aku bingung memilih baju yang akan ku pakai nanti. Semua baju di lemariku, aku acak-acak. Setelah hampir setengah jam, aku menemukan baju yang ku kira cocok. Aku memilih kemeja warna biru,cocok dipadukan dengan celana jeansku. Kusisir rambutku serapi mungkin, aku juga tak lupa memakai minyak wangi.

Jam 4 sore aku pergi kerumah Amel, sebelum kerumah Amel aku mampir ke toko buah untuk memberinya oleh-oleh. Aku tak ingin kelihatan buruk di depan mereka.

Aku sudah sampai di depan rumah yang berwarna hijau, sederhana, tidak begitu luas, tapi tatanan rumahnya sangat bagus. Tamannya dihiasi bunga-bunga yang indah dan sangat terawat. Dengan perasaan yang gerogi, aku beranikan untuk mengentuk pintu rumahnya. Tak lama seorang gadis kecil berlesung pipit membukakan pintu. Dengan suaranya yang menggemaskan dia mempersilakanku untuk duduk di rung tamu.

Amel tampak cantik mengenakan baju berwarna merah muda dan rambut yang terurai. Dia menemuiku dengan ditemani gadis kecil tadi. Rupanya gadis kecil itu adalah adik Amel, mereka berdua sama cantiknya.

“Gimana tadi? Nggak susah kan cari alamat rumahku?”

“Nggak susah kok. Ini adik kamu ya?” tanyaku sekedar basa-basi.

“Iya, ini adikku”

“Adiknya nggak kalah cantik dengan kakaknya ya?” Amel hanya tersenyum manis dan meninggalakanku berdua bersama adiknya.

“Adik namanya siapa?”

“Amanda Putri Setyawati” jawabnya sambil malu-malu.

“Sudah kelas berapa dik?” aku mencoba mengambil hati adiknya.

“Kelas tiga SD”

“Duh, pasti kamu pinter seperti kakakmu.”

Tak lama Amel kembali dengan membawa teh hangat dan memperkenalkanku pada orang tuanya. Aku sedikit gerogi. Kurasakan tanganku basah. Tanganku sedikit gemetar saat ayahnya menjabat tanganku. Ku beranikan diriku untuk berbicara dengan orang tuanya. Aku tak menyangka, keluarganya begitu ramah kepadaku. Suara ayahnya tegas, namun bijaksana. Aku menemukan figur seorang ayah pada dirinya, yang selama ini tak pernah aku temukan pada diri ayahku. Mamanya ramah dan murah senyum. Sesekali kami bercanda. Sungguh aku tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Indahnya dan bahagianya bila punya keluarga seperti ini. Dalam hatiku aku sempat iri kepada Amel. Aku ingin punya keluarga seperti ini. Keluarga yang bisa saling menyayangi, saling mengerti, dan bisa saling berbagi.

Aku bahagia bisa mengenal Amel dan keluarganya. Tak terasa sudah jam 8. aku berpamitan untuk pulang. Dengan hati gembira aku melangkah pulang. Sampainya di rumah, aku jadi terasa asing. Yang kurasakan berbeda sekali dengan saat di rumah Amel. Di rumah yang besar ini aku merasa sendiri dan kesepian. Ayah jarang berada di rumah. Tapi apapun yang terjadi aku harus mensyukuri semua itu. Ya, itu yang selalu di katakana Amel padaku.

Aku lelah sekali, kubiarkan tubuhku berbaring di atas tempat tidurku. Aku ingin cepat-cepat tidur. Karena besok pagi aku mau melihat pengumuman. Semoga aku lulus SPMB.

***

Jam 7 aku sudah menanti tukang Koran di rumahku, tapi sampai jam 7.30 tukang koran langganan ayahku belum juga datang. Mungkin karena hari ini ada pengumuman lulus SMPB jadi dia sedikit terlambat. Dengan sabar dan hati deg-degan aku menanti tukang koran itu. Jam delapan lewat sepuluh menit tukang koran itu datang ke rumahku. Cepat-cepat aku memperlihatkan koran itu kepada bunda. Pelan-pelan kubuka dan dengan teliti kucari namaku. Aku tak menemukan namaku, ku cari lagi dengan lebih teliti. Tapi aku tetap tidak menemukannya. Aku malah menemukan nama Desta tertampang jelas di koran itu. Setelah itu nama Amelia Putri Setyawati kubaca. Mereka berdua lulus. Hanya aku yang tak lulus. Bunda sedikit kecewa, tapi bunda tidak memarahiku.

Aku tak bisa percaya, kali ini Desta mengalahkannku. Dia bisa masuk di universitas negeri. Tiba-tiba telepon rumahku berdering. Aku agak malas mengangkatnya, tapi lama-lama aku tidak tahan dengan suaranya yang berisik.

“Hallo, assalamu’alaikum” ku dengar suara Amelia

“Walaikum salam” kujawab dengan nada yang datar.

“Kamu kenapa Ga? Kelihatannya kamu tidak bersemangat hari ini?”

“Nggak ada apa-pa kok Mel, aku cuma rada malas aja. Oh iya, selamat ya! Kamu lulus ujian SPMB”

“Iya, makasih ya. Ini semua juga berkat doamu. Gimana kamu?”

“Aku tidak lulus Mel”

“Ya sudah, jangan bersedih ya. Tuhan pasti memberi yang terbaik buat kamu.Setelah ini apa rencanamu Ga?” Amel mencoba menghiburku.

“Mungkin aku akan daftar di universitas swasta”

“Ya sudah, kamu jangan bersedih lagi ya.”

“Iya Mel”

“Ya sudah. Belajar yang rajin ya! Assalamu’alaikum”

“Walaikum salam”

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,

0 Komentar | @ 09.54

Cerita sebelumnya:


Dilema Cinta (3)

Tiga hari ini aku lalui hari-hariku dengan Amel. Aku senang bisa belajar bersama Amel. Amel mengajariku matematika, pelajaran yang aku benci. Pelajaran yang membuat aku harus memilih jurusan IPS, karena aku tak ingin bertemu dengan matematika di kelas tiga. Aku tak banyak mengajari Amel, karena Amel lebih pandai dariku. Aku ingat, sewaktu SMP dia selalu mendapat juara.

Hari ini aku bangun lebih awal. Jam lima alarmku sudah membangunkanku. Amel juga menelponku, dia takut kalau aku terlambat. Setelah mandi aku mempersiapkan peralatanku. Aku tak ingin ada sesuatu yang tertinggal. Sebelum berangkat aku berpamitan kepada orang tuaku.

Jam 6 aku sudah berangkat bersama Desta. Aku tak ingin hari pertama ujian aku terlambat. Tapi hari ini aku sial. Karena ingin cepat sampai, Desta menerobos lampu merah. Desta pikir ini masih pagi dan jalanan juga masih sepi, jadi tak ada polisi yang berjaga. Tapi dugaan Desta salah. Tiba-tiba di belakang mobil kami, ada seorang polisi yang membuntuti kami. Kami berhenti, polisi itu memeriks Desta dan memberinya surat tilang. Kami sempat berdebat beberapa menit dan berkata kalau kami hari ini ada ujian. Akhirnya polisi itu tak jadi memberi kami surat tilang setelah Desta memberinya uang tujuh puluh ribu. Kami datang tepat jam 7. Semua anak sudah berada di tempat duduknya dan sudah siap mengerjakan soal ujian.

Aku duduk di depan dekat dengan pengawas, membuatku tidak nyaman. Soal-soal yang diberikan membuat aku pusing. Padahal tiga hari ini aku sudah belajar, tapi hanya setengah yang bisa aku kerjakan. Aku tak bisa menyontek teman di sampingku, karena soal kami berbeda. Walau aku tak bisa, tapi aku harus mengerjakannya sendiri. Aku ingat Amel pernah berkata, kalau kita harus percaya dengan kemampuan kita sendiri.

Setelah hampir 3 jam, aku keluar dari ruangan. Kulihat Desta keluar dengan wajah tanpa beban. Aku tak begitu yakin kalau dia bisa menyelesaikan soal-soal itu, karena selama ini prestasinya lebih buruk dari pada aku.

“Gimana tadi? Kamu bisa ngerjain semua soal-soalnya nggak?” tanyaku pada Desta

Dengan ringan Desta menjawab,” Ya… begitulah.”

“Tumben kamu bisa ngerjain semua? Dapat feeling dari mana?”

“Namanya juga DESTA, pasti punya 1001 cara dong!” Desta sedikit menaikan alisnya dan tersenyum padaku.

“Memang kamu pakai cara apa?” Tanyaku penasaran.

“Tadi aku dapat jawaban dari temanku, dia ngirim jawabannya lewat sms”

“Apa? Kamu tadi smsan? Memangnya kamu tidak takut ketahuan?”

“Takut sih, tapi aku kan duduk di belakang, jadi aku sedikit bebas.”

Aku tak menyangka Desta bisa menjawab semua soal karena mendapat jawaban dari temannya. Desta memang cerdik untuk urusan seperti ini. Kami langsung pulang. Aku tak menemui Amel, karena tempat ujian kami berbeda. Sesampainya di rumah aku langsung menelpon Amel.

“Hallo, assalamu’alaikum”

“Walaikum salam” Seseorang menjawab salamku, sepertinya mama Amel yang menerima telponku.

“Amel ada tante?”

“Oh, Amel? Tunggu sebentar ya, tante panggilkan,”

Tak lama kemudian aku mendengar suara Amel yang lembut,” Hallo, ini siapa ya?”

“Ini aku Mel”

“Ega? Gimana tadi? Kamu bisa mengerjakan soal ujiannya nggak?” Ternyata Amel mengenali suaraku.

“Soalnya sulit-sulit Mel, kalau kamu gimana?”

“Alhamdulillah aku bisa. Ya sudah, jangan telalu dipikirkan. Lebih baik sekarang kamu belajar untuk ujian besok. Aku doakan moga besok kamu bisa mengerjakan”

“Iya Mel, makasih ya”

“iya, sama-sama”

“Assalamu’alaikum”

“Walaikum salam”

Setelah menelpon Amel aku langsung belajar. Aku ingin besok bisa mengerjakan semua soal-soal ujian. Kehadiran Amel membuat aku lebih bersemangat.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,

0 Komentar | @ 09.51

Cerita sebelumnya:


Dilema Cinta (2)

Seminggu telah aku lalui tanpa ada beban yang begitu berat. Aku mulai akrab dengan serbuk putih itu. Aku tahu apa yang kulakukan salah, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Serbuk itu telah menghipnotisku. Menghilangkan semua masalahku, walau hanya sesaat.

Hari ini aku mengantar bunda ke sekolahku. Bunda ke sekolah bukan karena aku sedang dihukum, tapi hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Hatiku berdebar. Aku melihat kecemasan di wajah bunda. Selama ini prestasi belajarku memang tidak bisa dibanggakan. Aku sangat takut. Takut kalau aku tidak lulus. Takut kalau membuat bunda sedih. Dan takut kalau membuat ayah marah.

Setiap detik aku berdoa. Aku benar-benar takut. Kudengar dewan guru memanggil namaku dan memberi selembar kertas kepada bunda. dengan pelan-pelan bunda membuka kertas itu. Kulihat wajah bunda berseri-seri dan matanya berkaca-kaca. AKU LULUS. Bunda memelukku dengan erat. Aku tak henti-hentinya berucap syukur. Terimakasih Tuhan. Terimakasih karena Kau telah mengabulkan doaku.

Malam harinya, kami sekeluarga merayakan kelulusanku. Walau aku lulus, tapi tak kudengar ayah memberiku sebuah ucapan selamat padaku. Walau begitu aku sudah bersyukur karena hari ini ayah tidak memukul bunda. Kami membicarakan masa depanku. Bunda menyuruhku untuk melanjutkan ke universitas negeri yang ada di kotaku. Kota yang terkenal dengan kota pendidikan. Ada juga yang menyebut kotaku dengan kota bunga.

Ayah tak yakin dengan kemampuanku, bahkan dia berkata seandainya aku diterima di Perguruan Tinggi Negeri, ayah berani meminum air seniku. Aku sendiri memang tak yakin, tapi bunda terus memberiku semangat. Aku ingin membahagiakan bunda.

Esok harinya, aku bersama sahabatku Desta pergi untuk mendaftar di universitas negeri yang banyak diminati. Di sana kami bertemu dengan teman sekolahku. Rupanya mereka juga ingin sekolah di sini. Kami semua sibuk mengisi lembar pendaftaran. Kulihat seorang gadis yang dengan asyik mengobrol dengan temannya sambil mengisi lembar pendaftaran. Wajahnya tak begitu asing bagiku. Aku mencoba untuk mengingatnya.

Ya! Aku ingat sekarang. Dia adalah Amelia Putri, gadis yang pernah menarik hatiku sewaktu aku masih duduk di bangku SMP. Aku tak percaya kalau aku bisa bertemu dia lagi. Sudah tiga tahun aku tak pernah melihatnya. Dia tak banyak berubah. Dia masih cantik seperti dulu, wajahnya masih kelihatan imut, hanya rambutnya sekarang lebih panjang. Tanpa banyak berpikir aku langsung menghampirinya dan menyapanya.

“Hai, apa kabar?” Amel sedikit terkejut dengan kehadiranku.

“Kamu Ega kan? Hai, kabarku baik, kamu sendiri gimana?”

“Aku juga baik. Kamu juga daftar di sini Mel?”

“Iya, kamu juga kan?”

Aku menganggukan kepalaku. Setelah kami selesai mengisi lembar pendaftaran, aku mengajaknya mengobrol sambil makan siang. Teman-teman Amel sudah pulang duluan dan Desta juga sudah kusuruh pulang. Aku hanya ingin mengobrol berdua dengan Amel. Aku ingin melepas rasa rinduku selama ini.

Aku tak henti-hentinya memandang wajahnya yang cantik. Pipinya yang cabi membuat wajahnya telihat imut. Senyumnya manis sekali. Kami menghabiskan waktu makan siang dengan mengobrol tentang masa lalu. Sesekali kami tertawa sampai menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya. Hari ini aku bahagia.

* * * * *

Malam semakin larut. Aku berdiri di dekat jendela kamarku sambil memandang ke atas langit. Kulihat banyak bintang yang berkedip dan bulan sabit yang tersenyum padaku. Aku membayangkan bintang dan bulan itu adalah Amel yang sedang berkedip dan tersenyum padaku. Entah kenapa hatiku terasa damai saat bertemu dengannya. Terimakasih Tuhan, hari ini Kau telah mempertemukanku dengan dia.

Pagi-pagi aku terbangun, aku mendengar ayah sedang bertengkar lagi dengan bunda. Aku tak berani keluar dari kamarku. Aku mendengar bunda menumpahkan secangkir kopi dibaju ayah. Suara ayah yang sedang membentak bunda terdengar sampai di kamarku dengan jelas sekali. Aku kasihan melihat bunda. Kapan ayah akan berhenti bersikap kasar pada bunda?

Dari dulu ayah memang tidak pernah mencintai bunda. Ayah menikah dengan bunda karena mereka dijodohkan oleh nenek. Dulu bunda bekerja diperusahaan milik ayah. Sudah hampir berumur tiga puluh tahun, tapi tak satu kalipun ayah memperkenalkan teman wanitanya kepada nenek. Di umur tiga puluh tahunnya, nenek menyuruh ayah untuk menikahi bunda. Aku tahu, ayah terpaksa menikahi bunda, karena ayah ingin menunjukkan kalau dia adalah lelaki normal. Tapi sampai saat ini aku tak pernah melihatnya menyukai seorang perempuan. Pernah sekali aku melihat ayah akrab dengan lelaki teman bisnisnya. Sikap mereka tak wajar. Mereka tak seperti rekan bisnis. Pernah terpikir dibenakku kalau ayah seorang homo. Pahit memang, tapi apapun yang terjadi dia adalah ayahku. Aku harus menerima kenyataan ini.

Setelah tak kudengar suara bentakan ayah, aku beranikan untuk ke luar kamar. Ayah hanya melirikku saat aku lewat di depannya. Aku langsung pergi ke kamar mandi, karena hari ini aku ada janji dengan Amel untuk belajar bersama. Tiga hari lagi kami ujian SPMB.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,

0 Komentar | @ 09.48

Dilema Cinta (1)

Pagi yang cerah. Burung-burung berkicau begitu merdunya. Desir angin yang melambaikan daun di halaman rumahku dan tetesan embun dari pucuk daun, menambah kesejukan di pagi ini. Betapa besarnya anugrah Tuhan dan betapa indahnya dunia ini. Terasa damai dan tenang……

Tapi keindahan dan kedamainan ini hanya semu bagiku. Aku tak pernah merasakan kedamaian dalam hidupku. Hari-hari yang kulalui begitu kelabu, mendung, penuh dengan hujan dan petir yang menyambar. Ya…. Setidaknya itu yang kurasakan sekarang.

Setiap hari aku selalu melihat pertengkaran kedua orang tuaku. Mungkin aku memang sudah ditakdirkan untuk hidup dalam keluarga seperti ini. Aku selalu melihat ayahku memukul bunda tanpa sebab yang jelas. Aku ingin membrontak dan melindungi bunda. Bahkan ingin sekali aku menghajar ayah sampai tulang-tulangnya remuk, tapi aku tak bisa. Aku terlalu pengecut dan pecundang yang tidak berani melawan kekejaman ayahku. Aku tidak bisa melindungi bunda. Aku hanya bisa diam melihat bunda dipikul.

Dulu aku pernah melihat ayah memukul bunda dan aku mencoba membela bunda, tapi tamparan keras yang akhirnya aku terima. Sakit rasanya, tapi jauh lebih sakit hati ini. Aku tidak berani melawan ayah. Bunda juga melarangku untuk melawan ayah. Bagaimanapun juga dia adalah ayahku dan aku harus menghormatinya, walaupun sebenarnya dia tidak pantas untuk aku dihormati. Aku tak ingin membuat hati bunda sedih. Aku ingin membahagiakan bunda……

“Ega,cepetan turun. Sarapan dulu Nak! Ini sudah jam berapa? Nanti kamu telat sayang” Suara bunda membuyarkan lamunanku.

Tak terasa sudah hampir jam 7. Lama juga aku berdiri dan melamun di samping jendela kamarku. Cepat-cepat aku mengambil tas sekolahku dan menuruni anak tangga. Kulihat bunda dan bibi sedang sibuk menyiapakan makanan di atas meja dan menatanya semenarik mungkin. Aku sudah tak sabar untuk melahap semua makanan yang ada.

“Hemm… baunya harum, pasti lezat! Sapa dulu dong yang masak, BUNDA!”

“Ah, kamu ini pintar merayu ya! Tapi jangan harap bunda akan menambah uang sakumu” aku hanya bisa tersenyum pada bunda dan segera kuambil piring di depanku.

“Bunda! Dimana kau taruh dasi ayah?” teriak ayah, dan bunda cepat-cepat pergi ke kamar untuk mencarikan dasi kesayangan ayah.

“Maap yah, bunda lupa. Dasi ayah tadi baru dicuci bibi dan sekarang masih belum kering”

“Apa kamu bilang? Masih belum kering! Kenapa baru cuci sekarang?!”

“Maap yah!”

“Maap-maap! Apa saja yang kamu kerjakan di rumah? Kamu selalu membuat aku kesal!” Ayah mendorong bunda sampai jatuh ke lantai dan ayah buru-buru pergi ke kantor tanpa menghiraukan bunda yang terjatuh.

Pagi ini aku melihat lagi air mata bunda. Aku melihat bunda sedang menyapu air matanya yang menetes. Bunda selalu berusaha tegar menghadapi hidup ini. Hatiku menangis melihatnya. Selera makanku jadi hilang karena pemandangan ini. Buru-buru aku pergi ke sekolah tanpa berpamitan pada bunda, karena aku tahu saat ini bunda tak ingin diganggu.

* * * * *

Di sekolahku sekarang memang sudah tidak ada pelajaran, karena kami sudah selesai UAN. Walaupun begitu, kami masih diwajibkan ke sekolah sampai pengumuman kelulusan. Hatiku masih kacau karena teringat kejadian tadi pagi. Aku sudah bosan dan lelah dengan semua ini.

“Hai Ga! Ngapain kamu bengong sendirian di sini?” Desta menepuk bahuku dan membuyarkan semua lamunanku.

“Ah, kamu Des! Bikin orang kaget aja.”

“Memangnya kamu kenapa? Lagi ada masalah ya?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Jangan bohong deh! Orang tuamu bertengkar lagi ya?”

Aku hanya bisa menganggukan kepalaku.

“Sabar aja guys, nggak usah terlalu kamu pikirin. Ntar sepulang sekolah kamu ikut aku aja”

“Memangnya kamu mau mengajak aku kemana?”

“Udah ikut aja, ntar juga tahu. Aku jamin semua masalahmu bisa hilang” Desta meninggalkanku sendirian tanpa berkata apa-apa lagi.

Aku sudah mengenal Desta sejak kecil. Rumahnya memang tak begitu jauh dari rumahku. Bisa dibilang dia adalah teman dekatku. Dia berbeda sekali dengan aku, dia jarang mengeluh dan hampir aku tak pernah melihatnya mengeluh. Tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang hitam tak membuat dia jadi minder bila berjalan didekatku.

Sepulang sekolah dia mengajakku ke tempat yang asing bagiku. Kami memasuki sebuah rumah yang tak begitu besar dan seperti tidak terawat. Kami berdua disambut dengan ramah, tampaknya Desta sudah begitu mengenalnya, dia begitu akrab berbicara dengan sahabatku. Aku tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, mereka tampak serius berbicara. Tak lama kemudian mereka menghampiriku dan mengajakku ke ruang tengah. Aku tak percaya dengan yang ku lihat. Dia memberi Desta sesuatu, semacam serbuk putih ,mirip dengan tepung yang biasa bunda masak dan Desta memberi selembar uang lima puluh ribu pada lelaki itu. Setelah itu mereka saling merangkul dan kami berpamitan pulang.

Setibanya di rumah, kami langsung menuju kamarku. Tanpa basa-basi lagi Desta langsung berbaring di atas tempat tidurku. Aku masih penasaran dengan semua yang kualami tadi. Sambil berganti baju aku bertanya kepada Desta tentang semua yang terjadi tadi. Aku terkejut mendengar penjelasan Desta. Aku baru tahu kalau serbuk putih tadi adalah putau.

Aku tak pernah menyangka kalau selama ini sahabatku sering mengkonsumsi barang haram itu. Setiap ada masalah Desta tak pernah mengeluh padaku, ternyata serbuk inilah yang membuat Desta melupakan semua masalahnya. Aku penasaran dengan serbuk ini. Apa benar serbuk ini bisa menghilangkan masalahku? Aku mulai mencicipinya. Sedetik dua detik tak ada sesuatu yang terjadi padaku. Tapi lama-lama badanku terasa ringan dan pandanganku sedikit kabur. Aku merasa melayang……setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Semua bebanku selama ini terasa hilang.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,